|
oleh : Agusman Rizal, FNS Project Coordinator Plan International Indonesia NT Area
Kupang (2009). “Inti utama dari penerapan Positive Deviance (PD/Penyimpangan Positif) pada Pos Gizi adalah mencari solusi untuk masalah gizi buruk dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungan kita sendiri” kata Ibu Herlindis (Staf Dinkes Kab.Sikka dan Anggota Team PD Kab Sikka). Pernyataan tersebut disampaikan pada kegiatan Public Expose: “Berbagi Pengalaman Intervensi Pangan & Gizi terintegrasi” pada tanggal 16 Maret 2009 di Kupang.
Kegiatan ini merupakan langkah yang ditempuh Integrated Food & Nutrition Security (IFNS) Project untuk menyebarluaskan intervensi pangan & gizi terintegrasi dalam upaya mengurangi Balita kurang gizi, serta diharapkan adanya perbaikan intervensi melalui input yang disampaikan oleh pemangku kepentingan, dan juga lembaga-lembaga yang mengimplementasikan program serupa.
Penerapan Pendekatan Penyimpangan Positif dalam implementasi Pos Gizi berdampak menaikan status gizi balita peserta pos gizi. Karena Kekuatan Penyimpangan Positif terletak pada solusi untuk permasalahan yang terjadi di masyarakat yang penyelesaiannya sebenarnya berada tepat di depan mata Mereka”. Kata Ibu Herlindis selanjutnya.
Menariknya pendekatan ini terletak pada bagaimana mempelajari perilaku-perilaku positif yang dilakukan oleh tetangga-tetangga sekitar Kita yang memiliki tingkat ekonomi sama-sama tidak mampu tetapi memiliki anak gizi baik dan untuk merehabilitasi anak-anak yang kurang gizi melalui kegiatan pos gizi dan pendampingan di rumah
Contoh kasus di Pos Gizi Pleat Desa Tanarawa dengan menerapkan Pendakatan Penyimpangan Positive dari 13 balita peserta Pos Gizi yang dilaksanakan bulan Mei 2008 hasil perbandingan penimbangan berat badan di hari ke 10 atau akhir sesi Pos Gizi terjadi kenaikan berat badan hampir semua peserta. Hasil monitoring beberapa bulan kemudian, tetap terjadi kenaikan, walupun ada anak yang turun berat badannya, tapi ini dikarenakan anak tersebut sakit.
Menurut Ibu Herlindis faktor lain yang juga berkontribusi mempengaruhi kenaikan berat badan balita tersebut adalah dengan adanya antusiasme dari keluarga untuk melakukan swadaya bahan makanan, tingkat kehadiran peserta pos gizi mencapai 100 %, setelah kader posyandu melakukan kunjungan rumah banyak ibu-ibu yang mempraktekan menu makanan dan juga adanya pendampingan dengan sistem orang tua asuh dengan setiap kader bertanggungjawab terhadap 3 balita gizi buruk.
Diutarakannya juga untuk perbaikan ke depan masih diperlukan langkah-langkah antara lain; penyusunan menu disesuaikan dengan musim, sosialisasi ulang tentang PD kepada ibu-ibu, menjalankan pesan-pesan kesehatan kepada ibu bayi saat pelaksanaan pos gizi dan perlu pelatihan pembuatan APE lokal untuk kader dan orang tua
Thanks
Selamat Tinggal Gizi Buruk
|